6 Maret 2014

Perpus UI (Mulai) Nggak Aman Karena Banyak "Volunteer"

Saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman tidak enak di kampus sendiri. Saya mahasiswa UI angkatan 2010 yang sering sekali berkunjung ke Perpustakaan UI. Sejak awal perpustakaan ini dibangun, saya merasa nyaman-nyaman saja berkunjung ke sini. Tapi beberapa hari terakhir, saya merasa kuatir dan tidak nyaman jika berkeliaran di Perpus UI. Mengapa? Begini ceritanya.

Saat itu hari Jumat (sekitar akhir bulan Februari), saya sedang bertemu dengan teman SMA saya yang kebetulan tidak berkuliah di UI. Mereka ingin sekali melihat-lihat dan berkunjung ke Perpustakaan UI. Kami bertiga, cewek semua, kebetulan sedang menikmati sore di Taman Lingkar perpus. Setelah dirasa cukup ngobrol tralala-trilili, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam perpus.

Kami baru saja bangkit dari duduk, tiba-tiba ada dua orang mencegat kami. Satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Kami sempat diminta waktu sebentar untuk diberikan informasi oleh mereka. Awalnya, saya biasa saja. Saya berpikir mungkin mereka mahasiswa UI yang sedang mengadakan kegiatan kampus dan ingin berbagi cerita atau semacam memberikan info tentang acara mereka. Oleh karena itu, saya menerima kehadiran mereka dan mengajak kedua teman saya duduk kembali.

Dua orang itu mulai memperkenalkan diri kepada kami bertiga. Si cowok yang menjadi jubirnya, mengatakan bahwa mereka adalah mahasiswa dari salah satu kampus swasta di Depok (yang letak kampusnya nggak sebelahan dengan UI itu loh, agak diujung jalan Margonda). Mereka juga memulai cerita mereka dengan membawa-bawa suatu komunitas yang peduli dengan kanker (saya lupa dia nyebut nama komunitas itu apa). Si cowok juga menyebut-nyebut salah satu penderita kanker bernama Rizki, katanya masih balita, sakitnya sudah lama, parah, dan bla bla bla dan seterusnya.

Saya mulai sadar bahwa mereka bukan mahasiswa UI yang sedang mempromosikan acara kampus. Tapi orang luar, yang saya tidak kenal, seperti "volunteer" kanker. Sejak itu juga, saya pun sadar, pasti ujung-ujungnya pasti saya diharapkan memberikan sumbangan untuk membantu pengobatan. TAPI, ternyata sumbangan yang mereka harapkan itu JAUH berbeda dengan yang saya pikirkan.

Kedua "volunteer" ini mengatakan bahwa mereka ingin sekali kami bertiga "membantu pengobatan Rizki" dengan cara membeli sebuah buku kecil, panjang, dan berwarna pink biru, mirip seperti buku kwitansi tetapi lebih tebal, dan saya tidak tahu apa isi buku itu, dengan seharga Rp. 100.000 per buku. Ia juga menambahkan begini, "Yah masa sih Kakak untuk beli minuman di Starbucks saja sanggup, untuk membantu pengobatan Rizki tidak mau menyisihkan uangnya. Apalagi kan Rizki tidak bisa setiap hari merasakan seperti yg kalian rasakan. Cuma seratus ribu rupiah kok Kak, bukunya masih tersisa lima. Kalau Kakak mau beli satu atau lima-limanya juga boleh kok. Dengan senang hati."

Sontak, saya dan kedua sahabat saya kaget mendengarnya. Salah seorang teman saya sempat nyeletuk sambil tertawa kecil, katanya, "Wah, kalau segitu mah, kita nggak punya uang. Bahkan bawa uang hari ini saja nggak sampai segitu."

Ternyata ucapan teman saya itu dibalas oleh si "volunteer" ini, katanya, "Yaa mungkin bisa patungan. Kalian kan bertiga. Jadi bisa beli satu atau dua, mungkin. Masa sih nggak pengen bantu sama sekali."

Di sini saya mulai nggak nyaman dengan cara dan arah bicara si "volunteer" ini. Hmm... terkesan agak memaksa dan bagi mereka pokoknya kami harus memberikan mereka uang senilai Rp. 100.000. Kami bertiga mulai berpandang-pandangan dengan tatapan saling bertanya. Sementara dari awal saya sudah bertekad jika memang kedua "volunteer" ini meminta sumbangan, saya akan memberi seikhlasnya dan tidak sejumlah seratus ribu rupiah atau malah ya tidak memberikan sama sekali. Awalnya saya sudah berniat baik, tapi karena adanya kesan pemaksaan ini membuat saya jadi malas untuk membantu. Bukannya pelit atau bagaimana, caranya ini loh...

Karena kedua "volunteer" ini terus nyerocos dengan rayuan-rayuan dan kata-kata seperti memojokkan kami (seperti "masa sih anak UI yang banyak duit nggak mau bantu? nggak mau ngasih duit seratus ribu doang? pelit banget!"), apalagi mereka juga mengatakan "Yaa seikhlasnya juga boleh kok, Kak.. Masa sih sudah seikhlasnya saja nggak ngasih juga.." akhirnya saya putuskan untuk angkat suara. Saya katakan pada mereka bahwa kami kemungkinan akan membantu, tetapi tidak untuk membeli buku seharga seratus ribu itu. Kami bertiga putuskan untuk patungan dan memberikan mereka setengah harga.

Tapi jangan salah, setelah diberikan lima puluh ribu saja mereka masih membujuk-bujuk agar kami memberikan setengahnya lagi. Katanya, "Tanggung loh lima puluh ribu lagi." Dengan segera saya katakan, "Tidak, terima kasih. Ini bantuan dari kami." dengan nada sopan dan sedikit tegas. Usai dapat uang, akhirnya mereka mengucapkan terima kasih dan berbasa-basi sebelum akhirnya pergi.

Saya sempat merasa tidak enak sekali dengan kedua teman saya yang baru pertama kali ke Perpustakaan UI, justru tersuguhkan dengan keadaan seperti itu. Bagi saya pribadi, saya cukup kaget mengalaminya. Karena tak biasanya di UI ada kejadian seperti itu. Kasar-kasarnya anak UI membutuhkan sumbangan untuk suatu acara atau kegiatan, biasanya lewat berjualan. Tidak seperti "volunteer" yang saya rasa abal-abal. Entahlah dari awal saya juga tidak tahu apakah mereka betulan volunteer atau bohongan.

Sebab, kejadian seperti ini tidak hanya sekali menimpa saya. Untuk kedua kalinya saya didatangi lagi salah satu dari mereka. Kali ini saya sedang di dalam perpus lantai bawah depan Times, sedang menunggu teman ke toilet. Memang, kondisi saya saat itu sedang melamun. Memikirkan banyak hal. Tiba-tiba ada yang datang meminta waktu sebentar karena ingin memberikan informasi, Saya kira tadinya orang luar yang kesasar di perpustakaan UI. Sebab tidak sekali dua kali, orang bingung jika berjalan-jalan di perpus semegah ini.

Orang ini berperawakan seperti mahasiswa, makanya saya tidak berpikir macam-macam. Hingga akhirnya dia menyebut YKI, Yayasan Kanker Indonesia katanya. Hingga akhirnya ia menyebut nama Rizki, seorang balita yang sedang mengidap kanker, langsung saja saya potong ceritanya. "Oh, Rizki? Adek kecil yg sakit kanker itu? Waktu itu juga ada yang datang ke saya seperti anda."

Agaknya dia kaget. Dia justru balik bertanya, "Oh kakak sudah pernah ya? Beli buku ini? Waktu itu kakak nyumbang berapa?"

Dalam hati, saya bingung. Apa pantas orang ini bertanya saya menyumbang berapa rupiah saat itu? Agaknya tidak etis ya... Karena saya sudah tau siapa dia dan orang ini mau apa, tanpa berlama-lama membuat mulutnya berbusa, saya langsung bilang bahwa saya tidak memberi sumbangan untuk kali ini. Saya langsung lihat raut wajah kecewa dan sedikit kesal dari orang itu. Tapi masa bodo lah! Toh, hak saya ingin memberikan sumbangan atau tidak. Apalagi saat itu saya sedang diburu waktu.

Inilah cuplikan cerita pengalaman saya yang membuat saya jadi merasa tidak nyaman dan tidak aman di kampus sendiri. Terlebih di perpus UI. Pengalaman yang tidak sekali dan cukup atau malah amat menganggu. Mungkin jika mereka "meminta" sumbangan dengan cara baik-baik, tentu akan lebih enak memberikannya. Tapi kalau caranya memaksa dan dipatok harga seperti ini, ya... kurang etis dan harus dicurigai.

Pesan saja, bagi yang membaca postingan ini, terlebih lagi anak UI, untuk lebih berhati-hati di kampus. Kalau bisa jangan jalan sendirian, minimal berdua atau bertiga dengan teman. Jangan bengong, karena mereka senang kayaknya mendekati orang-orang yang lagi sendirian terus bengong pula. Intinya lebih waspada saja sama orang-orang dengan ciri-ciri "volunteer" ini. Dan diharapkan juga untuk petugas-petugas keamaan di UI, agar lebih menindaklanjuti kasus ini. Karena saya yakin, kalau yang mengalami bukan hanya saya.


Salam saya,
Rara Indah (Mahasiswa FIB UI)

25 komentar:

  1. dah dr tahun lalu bbrp x ketemu orang gitu di fib n perpus (gw spawnnya di 2 spot itu sih :v) tp gw tinggal aj. masih mending yg galang dana dr jualan coklat (walau mahal w lebih hargai yg gini)

    BalasHapus
  2. yap gue juga tiga kali mengalami hal yang sama, bahkan mereka juga masuk ke departemen jurusan, semua yang dikatakan sama banget. Kata-kata yang dipake buat ngerayu juga sama. Lebih berhati-hati lagi deh ya di kampus dan semoga ada tindak lanjut dari keamanan di ui.

    BalasHapus
  3. Saya pernah juga dimintain beginian, tapi waktu itu saya lagi di Surabaya. Saya lagi nemenin temen makan di Tunjungan Plaza dan didatengin orang ini. Dia juga ngasih brosur2 dan minta sumbangan (minimal) seratus ribu, dan setelah banyak basa basi ternyata dia anak Margonda (saya lupa dia blg kuliah dimana) yang lagi pulkam ke Surabaya (waktu itu lagi puasa, mau lebaran). Orang YKI juga, tapi waktu itu ga nyebut2 soal Rizki sih. Orangnya macem sales MLM gitu, pake kemeja celana kain dan bawa2 brosur / tas.

    Wah2, mesti hati2 nih kalo ke perpus pusat. Pasalnya dia juga waktu itu agak menekan. :/

    BalasHapus
  4. Wah saya juga pernah, dan ngga cuman sekali wkwk :v

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Wah iya gue juga ditawarin 2 hari yang lalu. Voucher 100 rb. Akhirnya beli niatnya mau nyumbang, tapi pas diliat lebih seksama di voucher tulisannya "10 rb dari hasil penjualan voucher akan disumbangkan ke *(^%&%(*& (sensor)" (foto http://postimg.org/image/c7f359nm5/). Parah jualan 100 rb tapi yang disumbangin cuma 10% nya, kirain disumbangin semua. Trus sisanya diembat sendiri mungkin ya.

    BalasHapus
  7. Terima kasih untuk teman-teman semua yg sudah ikutan komentar dan bagi-bagi cerita. Ternyata variatif yaa.. dan sepertinya oknumnya sudah menyebar di mana-mana. Hmm.. enaknya mereka-mereka ini diapakan ya? Ya semoga ada yg menindaklanjuti. Kita memang harus lebih waspada lagi.

    BalasHapus
  8. Saya juga didatengin orang orang itu! Tapi di mall Gandaria City. Mereka ngakunya anak Binus, saya dicegat pas abis narik uang di atm. Pas saya beli satu buku mereka dengan seenaknya bilang "Masa cuma satu..."

    BalasHapus
  9. wah kaget banget pas liat postingan ini, ternyata ini udah menyebar dimana mana ya. Saya jg pernah mengalami ini di margo city, doi ngakunya anak binus (dari penampilan dan gadget yg dia punya sih emg anak binus banget, makanya ga punya pikiran macem2 pas doi nawarin voucher itu), tapi cara bicara dia sopan, gak memaksa. Akhirnya saya beli tentunya dgn niat emg bener bener untuk nyumbang. Tapi setelah tau kasus ini menyebar dan agak "mencurigakan", saya jadi semakin berpikir, apa mereka itu benar benar mencari donasi atau untuk hal hal lain ? dan sayapun jadi ragu apa org yg bertemu dgn saya tempo hari itu bener bener anak binus ? ._.

    BalasHapus
  10. wah, gue kira yg kaya gini cuma kecurigaan gue doang pas ngeliat "mereka" di perpus pusat minggu lalu. abisnya agak asing gitu penampilannya, dan mereka ngga terlihat bener2 mau gunain fasilitas perpus pusat utk belajar atau nugas. bukan gue sih yg jadi korbannya, cuma waktu itu yg didatengin sama "mereka" kumpulan mahasiswa sama orang tuanya yg lagi ngumpul duduk di kumpulan sofa deket bni perpus pusat. "mereka" lebih agresif dan sok asik kalo tau ada ortu dari mahasiswa, sekilas sih agak ganggu pertanyaan "mereka" krn mengarah ke pertanyaan pribadi makanya gue pikir oh mereka kawan lama mungkin, krn ngga ngambil pusing, yaudah gue cabut dari situ dan ternyata pas gue jalan ke arah greentea cafe, "mereka" yg minta donasi ngga cuma satu perwakilan doang tp kayanya sekompi gitu mencar untuk minta sumbangan dan korban mereka mahasiswa/i UI yg kurang info soal ini. gue bantu share ya biar pada aware semuanya :)

    BalasHapus
  11. mau sharing.. gue mahasiswi di salah satu kampus swasta di jak-sel. pengalaman gue juga sama ditawarin kayak gitu. tapi selama dia jelasin buku 100rb dan donasinya itu gue mikir ada yang janggal. moso kalo kita beli buku 100rb, kita bisa dapet diskon makan di resto2 terkenal sebesar 20%-50%. tapi dari kita beli buku 100rb dan keuntungan diskon makan itu, yang disumbangin ke "yayasan kanker" nya cuma 10rb ? kan gak logis..

    thanks..
    regard

    BalasHapus
  12. Saya mahasiswi gunadarma depok, saya kira hanya dikampus saya saja yang kena hal seperti ini, ternyata kampus tetangga (ui) juga kena. Jujur saya kaget, karena volunteer yang meminta pada saat itu ke kelas saya bilang bahwa mereka adalah mahasiswa komunikasi ui. Jadi kami sekelas patungan saja, toh yang meminta juga kampus sebelah pikir saya begitu. Ternyata bukan ya? Lain kali saya tidak langsung percaya begitu saja, mungkin pelajaran bagi kita semua.
    Numpang share ya :)

    BalasHapus
  13. Waduh... parah! Trus kalau begini siapa yang harus bertanggungjawab nyelesaikan..?

    BalasHapus
  14. ini memang semacam "taktik penipuan" dengan modus menyentuh sensitivititas tertinggi manusia "belas kasihan" dan "rasa syukur". kasihan karena pake cerita "anak penderita kanker, masih anak2 pula" juga rasa syukur "kt anak UI, masa iya gk bersyukur dengan berbagi pada orang susah". mereka manfaat kondisi itu dan mem"pressure" kita. kalo kita tinggalin tu orang tanpa peduli pasti rasanya nyesel banget. mgkn itu kira2 yang dirasa. anyway klo keadaannya kaya gini, saran terbaik yg bisa gw kasih adalah 1) tetep pertahankan logika. kalo emang dia bener2 volunteer harusnya kita yg lebih berani kasih "presure" bukannya apa2 kita musti berani ngorek mereka, ini lembaga dari mana? file2 atau bukti penugasan mereka mana? karena klo lembaga resmi gak begitu mainnya apalagi pake narikin duit yg dipatokin 2) jangan kebanyakan bengong, orang kebanyakan bengong atau kelihatan sendiri, secara mental akan mudah diserang dengan sugesti2 yg masu dr orang lain. apalagi dgn orang yg berniat jahat, siap2 udah incer kita, mereka udah siap kalo seandainya kita ada pertanyaan2 ttg mereka. masalahnya mereka gk ngasih kt kesempatan bertanya, mereka terus nyerang kita dengan sisi sensitivitas tadi sampai kita lupa nanya ttg mereka. intinya, JAGA KESADARAN KITA. modus sugesti2 yg dipaksa masuk oleh mereka ke otak kita ini, mirip2 cara hipnotis soalnya. 3) klo udah muak ama mereka, dan kita sadar udah banyak dari kita yang jadi korban. kita lupa untuk MELAPORKAN MEREKA kpd pihak yang berwenang, entah itu polisi, minimal PLK UI lah. pihak berwenang termasuk Kampus UI sendiri gak akan berbuat apa2 bukan klo gak ada laporan yang masuk? Bukannya apa2 maksud kita ngelaporin mereka, tapi klo mereka beneran baik dan punya bukti penugasan yang jelas pastinya mereka gak akan kena masalah kan? :) ini opini gw aja yak, tks. oya, terakhir pesan dari emak gw, "yang namanya kebenaran itu gak maksa orang lain di luar kemampuan. klo dipaksa mencurigakan" :)

    BalasHapus
  15. Makasih infonya ya. Izin share

    BalasHapus
  16. wah pernah mengalami ini juga, bahkan mereka sampai masuk kelas waktu itu ckck

    BalasHapus
  17. Granton marketing, cari deh....

    BalasHapus
  18. Pffft, di fakultas teknik UI juga pernah dicegat beginian sy @_@ di perpus juga pernah... fundraisingnya ga kelar2 y padahal kayanya udah nyebar dimana2 gt ^^"

    BalasHapus
  19. Wah, informasi menarik. Meskipun tidak pernah menemui yang seperti ini di Jogja, tapi info ini bisa menjadi pelajaran, siapa tahu suatu saat si "volunteer" ini melebarkan operasional sampai ke kampus-kampus di Jogja.

    BalasHapus
  20. wah, saya juga pernah waktu itu di margo. cuma lebih halus modusnya. sama persis jangan jangan. bukunya sih isinya kupon voucher di rumah makan. atau beda yah? cuma dari awal ampe akhir dia terus maksa saya sama temen saya buat patungan. akhirnya, saya bilang kalau saya ke margo cuma mau ketemuan sama temen saya. dan itupun ditraktir. sudah akhir bulan. dia bilang, beli baju aja sanggup. padahal setaun aja belum tentu beli baju. zzz. laporin aja kak ke perpusat. tapi, susah kedetect juga sih kalo hal kaya gini.

    BalasHapus
  21. saya juga pernah di kantin salah satu fakultas di ui. saat itu saya sedang 6 orang yang lain sedang makan di kantin, tiba tiba ada seorang mas-mas an berpenampilan rapih dan senyum terus dan mulai berbicara bahwa dia volunteer dari yayasan kanker dan tertera diproposalnya ada website yayasan kanker tersebut. Saat itu, saya yg tidak begitu percaya dengan diam diam langsung googling website tsb dan website itu fiktif.

    BalasHapus
  22. Wahh kalo saya beda lagi tapi mirip2. Kalo saya waktu itu lg ngopi2 cantik gtu sama temen2 di j.co plaza semanggi eh tiba2 disamperin orang (1 orang cowo pake baju yg warnanya senada sama brosur yg dia bawa seolah2 itu baju memang seragam dia) yg dgn pedenya duduk di antara kita (ada sisa 1 sofa kosong). Trus ga ada ngomong apa2 cuma langsung kasih brosur yg isinya foto2 anak2 yg penyandang disabilitas, trus bilang "sumbangannya kak..". Kita udah nolak tuh, secara ga sopan banget cara dia dateng kaya 'nodong'. Kita udah bilang "sorry ya mas.." Eh dia tetep duduk di situ. Ga mau pergi. Akhrinya ngerti deh kalo itu 'kode' bahwa kita harus kasih sumbangan tanpa dia jelasin tujuannya untuk apa. Temen gue ada yg minta penjelasan tapi doi cuma jawab "ya, sumbangan untuk mereka.." -_- di belakang brosur ada daftar tabel nama org yg udah nyumbang dan nominal uang yg disumbang. Gue liat untuk hari itu lumayan banyak yg ngasih dan rata2 ngasih goceng. Akhirnya gue kasih juga deh segitu dan uangnya langsung dia kantongin dong.. -_- asli ga jelas banget. Dan yg luar biasanya lagi.. Tuh orang yg sama nyamperin gue dan temen2 gue lg (kali ini temen2 gue beda lg sm yg wktu di jco) di kantin kampus (kampus gue di samping pelangi) dgn tingkah laku yg sama! Dihh asli deh. Begitu dia liat gue, dgn beraninya gue lgsg nolak. Krn dia inget muka gue, dia lgsg kabur. Hati2 ya buat kita mahasiswa/i supaya lebih kritis lain kali mau nanya2in org kaya gitu, siapa tau kalo kitanya kritis, mereka jd mundur sendiri krn takut ketauan mereka dr 'lembaga/komunitas ga jelas'. Phew!

    BalasHapus
  23. ini ada referensi juga bentuk penipuan yang mirip mungkin sama. http://then2sd.blogspot.com/2013/10/hati-hati-penipuan-mengatasnamakan.html

    BalasHapus
  24. numpang komentar ya, barusan bgt tadi siang saya sdg di taman lingkar perpusat ui. Kemudian saya dihampiri cowok dan mengaku anak jurusan marketing bisnis binus. Kemudian dia cerita bahwa dia sdg ada kegiatan dengan Yayasan Kanker Indonesia. Ketika saya tanya apakah acara tsb acara BEM atau bagaimana, dia tdk bisa menceritakan dengan jelas. Kemudian saya tanya kenapa anak binus mencari kegiatan sosial di lokasi yg cukup jauh dr kampusnya? Dia jg tdk bs mnceritakan dengan jelas. Lalu saya tanya lagi kenapa meminta donasinya jauh-jauh ke ui? Lagi dan lagi dia tdk bs jelaskan secara jelas. Dan cara meminta sumbangannya pun memaksa. Jadi saya berikan seikhlasnya. Dan dia meminta email saya lalu saya tanya buat apa? dia blg utk mngirimkan laporan keuangan dan ucapan terima kasih.. ya semoga email saya tidak disalahgunakan.

    BalasHapus